BMKG Wanti-wanti Cuaca Ekstrem Akibat Siklon Herman di DI Yogyakarta hingga 4 April
Ilustrasi petir menyambar ladang jelang hujan lebat disertai angin kencang. (Pixabay)

Bagikan:

YOGYAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta mewaspadai kemunculan Siklon Tropis Herman di Samudera Hindia.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan siklon itu dapat memicu cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang. Siklon tropis itu diprediksi aktif hingga 4 April 2023.

"Siklon Tropis Herman memengaruhi peningkatan suplai udara di wilayah Jawa, sehingga aktivitas awan konvektif relatif meningkat. Hal ini memengaruhi terjadinya beberapa kondisi cuaca yang cukup ekstrem di wilayah Jawa dan Yogyakarta," ujarnya saat konferensi pers virtual diikuti di Yogyakarta, Jumat, 31 Maret, disitat Antara.

Mengacu pantauan BMKG pada Jumat, katanya, posisi siklon tropis yang awal terdeteksi pada Rabu (29 Maret) itu masih berada di Samudera Hindia di sisi selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta serta diprediksi bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan 5 knot.

Siklon Tropis Herman kemudian diperkirakan bergerak menuju wilayah pertengahan perairan Indonesia dan akan kembali ke arah barat.

"Jadi posisinya akan bergerak ke wilayah sebelah selatan Jawa Tengah dan DIY. Puncaknya nanti di sebelah timurnya adalah hari ini, pukul 12.00 WIB dan akan kembali lagi ke arah barat," kata dia.

Pergerakan siklon tersebut akan memunculkan cuaca ekstrem seperti yang telah terjadi di wilayah DIY beberapa hari terakhir.

"Bisa berupa hujan lebat disertai angin bahkan ada potensi hujan es," tuturnya.

Warjono menuturkan pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi membawa dampak cuaca ekstrem biasanya akan mulai terbentuk di sebelah barat Gunung Merapi, di wilayah Salaman, Kabupaten Magelang atau wilayah Turi, Sleman.

Apabila telah berwarna gelap, awan konvektif yang terlihat menjulang tinggi atau biasa disebut awan tower itu berpotensi bergerak ke arah Kota Yogyakarta, yakni melalui wilayah Kulon Progo atau dari Sleman bergerak ke timur menuju Kota Yogyakarta, berlanjut ke Bantul dan Gunungkidul.

Kendati hujan yang akan terjadi memiliki durasi singkat, katanya, wilayah yang dilalui awan tersebut akan terdampak angin bersifat merusak.

Selain itu, angin puting beliung juga berpotensi terjadi khususnya di wilayah Bantul karena memiliki daerah yang datar.

Oleh karena itu, kata dia, apabila masyarakat mulai melihat munculnya awan tower sekitar pukul 10.00 WIB atau pukul 11.00 WIB maka perlu meningkatkan kewaspadaan.

Sebagai upaya mitigasi, Warjono mengimbau masyarakat melakukan pemangkasan pohon yang berpotensi roboh dan saat terjadi hujan lebat agar menghindari berteduh di bawah baliho atau pohon.

"Pola-pola (pergerakan awan, red.) itu memang lokal terjadi di Yogyakarta. Ini perlu diwaspadai sehingga ketika ada tanda-tanda cuaca ekstrem di wilayah itu tentunya kita akan lebih siap untuk menghadapi," ujar dia.