Bagikan:

 

JAKARTA - Remaja perempuan lebih rentan mengalami depresi dibandingkan remaja laki-laki. Hal ini diungkap pada laporan tahun 2024 Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Pada laporan terdapat 53 persen remaja perempuan mengalami perasaan sedih atau putus asa terus menerus. Remaja perempuan juga lebih memiliki banyak hal yang dipikirkan dan perilaku untuk bunuh diri.

“Depresi selama masa remaja dapat secara signifikan berdampak pada perkembangan sosial dan emosional, dan meningkatkan risiko bunuh diri,” kata penulis pertama penelitian Naghmeh Nikkhslat, PhD, di King’s College London, dikutip dari WebMD, pada Selasa, 1 April 2025. 

Depresi yang dialami remaja perempuan ini biasanya dimulai sejak usia 12 tahun. Perbedaan tingkat depresi berkaitan dengan perubahan fisik antara anak perempuan dan laki-laki yang berbeda.

Pubertas biasanya dialami lebih awal oleh remaja perempuan, dan perubahan hormon cenderung terlihat lebih jelas pada remaja perempuan. Munculnya depresi dan tingkat keparahannya juga dipengaruhi dengan remaja perempuan yang sangat peduli bagaimana pandangan orang lain terhadap mereka.

Depresi pada remaja perempuan ini juga dipengaruhi dengan kegiatan yang dilakukan dengan perangkat elektronik, seperti ponsel. Remaja laki-laki biasanya menggunakan ponsel untuk bermain gim, sedangkan remaja perempuan menggunakannya untuk media sosial yang bisa memperparah stres karena terjadi banyak perbandingan dan standar yang ingin dicapai.

Depresi pada remaja khususnya perempuan ini tentunya mengkhawatirkan karena dapat berdampak buruk pada masa depan mereka. Hal ini harus diatasi, salah satunya dengan mendorong orang tua lebih aktif bekomunikasi dan terbuka, sehingga menciptakan lingkungan nyaman dan menjaga kesehatan mental anak.

Para remaja perempuan didorong untuk menerapkan pola hidup sehat untuk mengelola stres. Mulai dari olahraga teratur, menulis jurnal, melakukan hobi, hingga membangun hubungan sosial untuk menjaga emosional mereka.