JAKARTA – SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, sukses meluncurkan empat astronot swasta dalam misi Fram2. Ini menjadi misi penerbangan pertama manusia mengelilingi Bumi melalui orbit kutub.
Misi ini dipimpin oleh pengusaha kripto Chun Wang, investor asal Malta kelahiran China yang dikenal sebagai pendiri perusahaan penambangan Bitcoin. Nama Fram2 sendiri terinspirasi dari kapal Norwegia Fram, yang memainkan peran penting dalam eksplorasi Arktik pada awal abad ke-20.
Roket Falcon 9 yang membawa kapsul Crew Dragon lepas landas dari Kennedy Space Center di Florida pada Senin malam 31 Maret pukul 21.47 EDT (Selasa 01.47 GMT). Para awak akan menghabiskan 3 hingga 5 hari di orbit, melakukan 22 eksperimen ilmiah terkait dampak penerbangan luar angkasa dan mikrogravitasi terhadap tubuh manusia.
Sebelum peluncuran, keempat awak diantar ke landasan menggunakan mobil listrik Tesla dalam iring-iringan yang dikawal polisi. Di tengah perjalanan, mereka sempat menyaksikan peluncuran roket Falcon 9 dalam misi Starlink yang tidak terkait.
"Kami menonton peluncuran roket saat dalam perjalanan menuju peluncuran roket kami sendiri," tulis Wang di platform media sosial X milik Musk, disertai video peluncuran Falcon 9.
BACA JUGA:
Misi Swasta ke-6 SpaceX
Fram2 menjadi misi astronot swasta keenam yang dijalankan oleh SpaceX, semakin mengukuhkan dominasi perusahaan ini di industri penerbangan luar angkasa komersial. Crew Dragon yang digunakan dalam misi ini adalah pesawat luar angkasa berbentuk kapsul yang dikembangkan dengan dana dari NASA dan kini rutin digunakan dalam misi berawak.
Saat ini, SpaceX menjadi satu-satunya perusahaan yang secara rutin menerbangkan kapsul berawak ke orbit. Sementara itu, kapsul Starliner milik Boeing masih mengalami kendala pengembangan. Dengan biaya sekitar 55 juta dolar AS (Rp910,8 miliar) per kursi, penerbangan luar angkasa komersial yang awalnya ditujukan bagi wisatawan kaya kini semakin banyak dimanfaatkan oleh negara-negara yang ingin membangun pengalaman luar angkasa mereka.
Namun, Fram2 adalah misi swasta murni tanpa dukungan pemerintah. Selain Wang, awak lainnya adalah sutradara asal Norwegia, Jannicke Mikkelsen, yang ahli dalam sinematografi virtual reality, peneliti robotika dan ilmuwan kutub asal Jerman, Rabea Rogge, serta petualang Australia, Eric Philips, yang dikenal karena ekspedisi ski ekstrem di wilayah kutub.
Misi ini menjadi tonggak baru dalam eksplorasi luar angkasa swasta, membuka kemungkinan baru bagi penelitian dan perjalanan luar angkasa di masa depan.