Biografi Singkat RM Tumenggung Ario Soerjo, Gubernur Jawa Timur yang Pertama
Monumen Suryo (ngawikab.go.id)

Bagikan:

Gubernur Jawa Timur yang pertama adalah Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo atau dikenal sebagai Gubernur Suryo. Pertama kali ia menduduki kursi gubernur pada  1945. Masa jabatannya berakhir pada 1948.

Tak hanya menjadi gubernur pertama Jawa Timur (Jatim), Gubernur Suryo juga menjadi pahlawan nasional. Masyarkat Jatim mengenalnya sebagai sosok yang pemberani dan termasuk salah satu orang yang menyalakan api semangat masyarakat Surabaya saat pertempuran November 1945.

Nama lengkap Gubernur Suryo adalah Raden Mas (RM) Tumenggung Arjo Soerjo. Gubernur Suryo lahir pada 9 Juli 1899 di Magetan. Sebelum menjadi gubernur pertama Jatim, Suryo merupakan Bupati Magetan, yaitu pada 1938—1943.

Dikutip dari Jatim.go.id, setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah menata kehidupan kenegaraan. Mengacu Pasal 18 Undang-Undang 1945 pada 19 Agustus 1945 oleh PPKI dibentuklah provinsi dan menentukan gubernur-gubernur yang memimpin.

Pendidikan Suryo Gubernur Jawa Timur yang Pertama

Riwayat pendidikan Suryo, ia pernah menuntut ilmu di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Ini merupakan sekolah untuk para calon pegawai-pegawai bumiputra pada zaman Hindia Belanda. Para murid-murid di sekolah ini akan dipekerjakan sebagai pamong praja.

Setelah lulus dari OSVIA, Suryo sempat berpindah-pindah karena menjadi pamong praja. Peran Suryo bagi bangsa telah ia mulai sejak saat itu.

Salah satu andil Suryo adalah pelebaran dan pengaspalan jalan antara Sarangan dan Magetan. Jalan tersebut memberikan manfaat yang besar karena memperlancar arus lalu lintas sehingga ekonomi masyarakat ikut terangkat.

Saat menjadi gubernur, yaitu pada 26 Oktober 1945, Suryo membuat perjanjuan genjatan senjata dengan komandan pasukan Inggris, Brigadir Jenderal (Brigjen) Mallaby, di Surabaya. Namun, hal tersebut hanya bertahan selama 2 hari.

Setelah itu, terjadilah perang yang berlangsung selama 3 hari di Surabaya, yaitu pada 28—30 Oktober 1945. Dalam perang tersebut, Brigjen Mallaby tewas.

Hal tersebut menyulut kemarahan Inggris. Mereka mengancam akan melakukan penyerangan ke Surabya jika masyarakat Surabaya tak menyerahkan senjata yang dimiliki pada 9 November 1945.

Menghadapi ancaman tersebut, RM Suryo bersama rakyat Surabaya melakukan penolakan, dengan kata lain siap terjun ke medan perang demi kedaulatan Tanah Air. Pada 10 November 1945, perang terjadi antara Inggris dan pejuang di Surabaya.

Perang November 1945 itu berlangsung selama kurang lebih 3 minggu. Hingga saat ini, 10 November diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan.

Ikuti berita dalam dan luar negeri lainnya hanya di VOI.id, Waktunya Merevolusi Pemberitaan!