Pembelajaran Tatap Muka di Surabaya Secara Penuh Dimulai Pekan Depan
Ilustrasi Pembelajaran Tatap Muka di Surabaya (ANTARA).jpg

Bagikan:

SURABAYA - Pembelajaran tatap muka di Surabaya segera digelar secara penuh untuk sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). PTM di Kota Pahlawan, Jawa Timur tersebut akan dimulai pada Senin, 10 Januari pekan depan.

"Jadi, di tahap awal ini mekanismenya 50 persen shift pertama dan 50 persen shift kedua, jadi tetap 100 persen," ucap Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Yusuf Masruh dikutip Antara, Kamis, 6 Januari.

Pembelajaran Tatap Muka di Surabaya Dibagi Dua Shift

Yusuf mengatakan, nantinya PTM di pekan pertama dibagi dalam dua shift, yakni shift pertama 50 persen dan shift kedua 50 persen sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. Keputusan ini didasarkan pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri dan juga atas perintah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

"Nanti akan dievaluasi terkait dengan prokesnya dan kesiapan anaknya, kalau satu pekan pertama bagus, maka pekan berikutnya tidak ada shift lagi, langsung masuk sekolah 100 persen, pagi semuanya," jelasnya.

Untuk shift 1 SD akan dilakukan mulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, dan shift 2 pukul 09.30 hingga 11.30 WIB. Sedangkan untuk shift 1 SMP dimulai pukul 06.30 hingga 09.30 WIB, dan shift 2 pukul 10.00 hingga 13.00 WIB. Sedangkan untuk PAUD dan TK pembelajaran dimulai pukul 08.00 hingga 09.20 WIB.

"Tapi jadwal ini juga harus menyesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing," ujarnya.

Sekolah Terapkan Prokes

Menurut Yusuf, ketika peserta didik datang ke sekolah, maka dia akan dicek suhu tubuhnya dengan thermogan, harus memakai masker dan harus cuci tangan. Bahkan, ia berharap pihak sekolah menyediakan sebuah ruang transit untuk mengatur siswa yang akan masuk dan keluar kelas.

"Jadi, ketika siswa tiba di sekolah, dicek suhu tubuhnya dan cuci tangan, lalu masuk ke ruang transit itu, lalu satgas mengatur mereka untuk masuk kelas supaya tidak berkerumun. Pulangnya juga demikian, keluar kelas mereka menunggu di ruang transit, ketika orang tuanya yang jemput datang dipanggil lalu langsung pulang, sehingga tidak ada kerumunan. Nah, bagi orang tuanya kita juga siapkan aplikasi PeduliLindungi di sekolah," katanya.

Saat PTM, Yusuf memastikan akan bersinergi dengan berbagai pihak, mulai dari satgas sekolah, Satgas Kampung Tangguh yang ada di sekitar sekolah, dan satgas yang ada di kelurahan dan kecamatan.

Nantinya, lanjut dia, mereka akan membantu mengarahkan dan mengingatkan anak-anak sekolah supaya tidak bergerombol, baik ketika akan memasuki sekolah hingga kelas maupun ketika keluar sekolah.

"Dengan prokes yang ketat dan bantuan para satgas ini, kita berharap para orang tua bisa mempercayakan anak-anaknya untuk sekolah mengikuti PTM. Jadi, kami tetap meminta persetujuan orangnya. Kalau pun masih ada siswa yang belum bisa mengikuti PTM ini, maka kami akan siapkan pembelajaran secara hybrid," ujarnya.

Guru Jadi Satgas

Sementara itu, Wakil Ketua PGRI Surabaya Achmad Suharto memastikan, para guru sudah menyiapkan berbagai hal untuk menyambut PTM 100 persen ini. Ia juga menjelaskan para guru nantinya juga akan bergantian atau piket menjadi satgas COVID-19 di sekolahnya masing-masing.

"Jadi, gantian satgasnya, bukan dari siswanya, tapi dari guru dan karyawan sekolah itu. Ini penting untuk bersama-sama menjaga supaya anak-anak tidak berkerumun di sekolah," kata Surhato.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Surabaya Erwin Darmogo memastikan pihak sekolah menyambut baik PTM 100 persen ini. Sebab, inilah yang ditunggu-tunggu selama ini oleh para siswa dan wali murid.

"Kami juga sudah siap semuanya, baik sarana dan prasarananya, termasuk pula penataan bangkunya supaya bisa jaga jarak. Jadi, kami siap melakukan PTM 100 persen ini," katanya.