Kisah Cinta Panji Jayakusuma: Foklore yang Melegenda di Jawa hingga Nusantara
Manuskrip cerita cinta Panji Jayakusuma (YouTube Citra Novria)

Bagikan:

SURABAYA – Kisah cinta Panji Jayakusuma adalah salah satu foklore yang cukup terkenal dari Indonesia. Jika Eropa punya kisah cinta Romeo dan Juliet yang dikarang oleh pengarang William Shakespeare, maka Nusantara memiliki kisah cinta Panji Jayakusuma dan Dewi Sri.

Peliknya kisah cinta Panji dan Sri tidak hanya dikenal di wilayah Jawa saja, bahkan beberapa sumber mengatakan bahwa kisah ini dikenal pula di luar Pulau Jawa hingga di wilayah Asia Tenggara.

Dalam sejarah Indonesia, kisah Panji Jayakusuma memiliki berbagai versi, mulai dari versi Bali, Jawa, hingga Melayu. Hal itu disebabkan lantaran kisah tersebut diceritakan secara lisan dari pendongeng satu ke pendongeng lain, sehingga cerita terus mengalami perubahan tergantung siapa pendongengnya.

Kisah Cinta Panji Jayakusuma

Pada suatu kala, hiduplah seorang pertapa yang bernama Resi Gadahu. Ia memiliki istri dan lima orang anak.

Anak pertama bernama Kili-suci (seorang perempuan) yang menjadi biksu, putra kedua bernama Dewa Kusuma (Lembumiluhur), putra ketiga bernama Lembu Amijaya, putra keempat bernama Lembu Mangarang, dan seorang putri lagi bernama Pregi Wangsa. Kelimanya dibesarkan di pertapaan Arga Jambangan setelah sang ibu meninggal.

Dari kelima anak Resi Gadahu, yang pertama kali berhasil menjadi raja adalah Dewa Kusuma. Ia memerintah di luar Jawa. Setelah sekian lama berada di negeri seberang, Dewa Kusuma memutuskan untuk pulang ke Jawa dan mendirikan Kerajaan Jenggala yang letaknya di Hutan Koripan.

Seiring berjalannya waktu, Dewa Kusuma memiliki anak dari istrinya, Putri Keling. Sang anak diberi nama Panji. Ia bukan bayi biasa karena merupakan jelmaan dari Dewa Wisnu (Sedana) yang mati karena bunuh diri. Ia meninggalkan saudara perempuan yang amat menyayanginya, Dewi Sri (Sri).

Meski keduanya berpisah, namun Sri dan Sedana tanpa disengaja bertemu. Keduanya sempat menjalin asmara beberapa lama, namun Sri mati karena dibunuh.

Cerita tak berhenti sampai situ. Dewa berkehendak bahwa Sri menitis di tubuh seorang bayi yang kemudian bernama Rara Temon. Ia adalah putri dari Dewi Rago, istri dari Raja Daha. Saat bayi Rara Temon dibuang dengan dihanyutkan di sungai lalu dipungut oleh Lurah Bantrang dan Nyi Bantrang.

Di sisi lain, kematian Sri memukul batin Panji. Melihat kesedihan anaknya, sang Raja meminta bantuan kepada Kili Suci agar putranya mau menikah dengan Tamiaji, Putri Kediri. Namun luka hati tak bisa ditutupi.

Pada suatu ketika, Panji dan pengikutnya tengah berburu di sebuah hutan. Ia kemudian bertemu dengan Rara Temon. Pertemuan tersebut menumbuhkan benih asmara dan diboyonglah Rara Temon ke ibu kota kerajaan. Meski keduanya saling cinta, Dewa kembali memisahkan mereka berdua.

Suatu ketika Panji membawa istri beserta pengikutnya untuk berlayar. Namun di tengah lautan kapal yang mereka tunggangi dihantam ombak dan membuat mereka terpisah. Sang istri terdampar di Bali, sedangkan Panji terdampar di Tanah Dayak.

Demi bertahan hidup, Panji kemudian mengubah namanya menjadi Jayakusuma dan mengabdikan diri pada Raja Urawan. Pengabdiannya membuat Panji dikenal karena ia berhasil mengalahkan musuh sang Raja.

Sedangkan Istrinya mendapat pertolongan Sang Hyang Narada. Diubahlah ia menjadi seorang pria dengan nama Raden Jayalengkara. Ia bertemu dengan Raja Bajosengara yang berkuasa di Bali. Setelah itu Jayalengkara diangkat menjadi anak dan pada akhirnya ia pula yang mewarisi kekuasaan ayahnya.

Dalam perjalanannya, Jayakusuma dan Jayalengkara sama-sama menjadi raja dengan kekuasaannya masing-masing. Hubungan kedua wilayah juga sempat memanas. Meski demikian, keduanya tak tahu identitas asli satu sama lain.

Di tengah jeda pertarungan, diam-diam Jayakusuma menyelinap ke dalam tenda Jayalengkara yang tengah bertapa. Keduanya hampir berkelahi namun dilerai oleh Sang Hyang Narada.

Sang Hyang Narada kemudian mengubah penampilan Jayalengkara dan membukakan mata Jayakusuma. Alangkah terkejutnya mereka karena melihat sosok yang sangat dicintai. Tahu akan hal itu, Panji kemudian membawa Sri kembali ke perkemahannya.

Panji, istri, dan para pengikutnya sempat tinggal di Bali dalam waktu lama. Keduanya pun hidup bahagia.

Selain terkait kisah cinta Panji Jayakusuma, dapatkan informasi dan berita nasional maupun internasional lainnya melalui VOI.