6 Cara Menghadapi Toxic Parent Demi Kesehatan Mental
Ilustrasi ara mengatasi toxic parent (Elina Fairytale/Pexels)

Bagikan:

SURABAYA - Hubungan antara orang tua dan anak adalah hal penting. Idealnya, dalam hubungan tersebut dipenuhi kasih sayang dan hubungan batin yang kuat. Sayangnya tak semua orang tua seperti itu. Ada pula orang tua yang justru jadi racun. Alih-alih jadi tempat berlindung, mereka justru jadi toxic parent dan mengganggu kesehatan mental. Lalu, bagaimana cara menghadapi toxic parent yang tepat?

Cara Menghadapi Toxic Parent

Dalam dunia parenting, sikap toxic parent tak dilakukan dengan benar-benar sadar. Misalnya, menganggap remeh prestasi anak dan tidak mengapresiasinya. Sikap tersebut akan membuat anak jadi pribadi yang merasa berguna, mengecewakan, dan tak percaya diri meski telah berupaya keras.

Perlakuan toxic parent tentu berdampak pada anak saat dewasa. Untuk menghadapinya, lakukan beberapa tips berikut ini.

Sadar bahwa masa lalu tak bisa diubah

Menerima kenyataan memang bukan hal mudah, termasuk untuk menerima hal-hal tidak menyenangkan yang berada di luar kuasa kita, seperti memilih di keluarga mana kita ingin dilahirkan. Namun terlalu lama memendam kesal dan dendam atas hal yang di luar kuasa itu justru akan memperparah luka batin kita. 

Batasi interaksi

Membatasi akses orang tua ke kehidupan pribadi Anda juga salah satu cara menghadapi hubungan yang beracun. Ini bukan berarti Anda menyingkirkan orang tua begitu saja, ya, tetapi membatasi seberapa sering interaksinya agar tak berpengaruh pada kondisi psikologis Anda.

Jangan campuri urusan orang tua

Orangtua mungkin ada kalanya terlibat masalah dengan anggota keluarga atau kerabat dekat lainnya. Meski Anda adalah bagian dari keluarga, kalau penyebabnya jelas-jelas adalah sikap buruk orang tua Anda , sah-sah saja, kok, tak perlu ikut ambil bagian sepenuhnya dalam perkara itu.

Jangan tinggal seatap

Sebagai orang dewasa, Anda memegang kendali kehidupan Anda sendiri. Tinggal di bawah satu atap bersama orang yang terus-menerus menggerus kewarasan Anda sama saja dengan menyakiti diri sendiri. Sayangi diri Anda dengan mengambil jarak dengan orang tua untuk memulihkan kondisi mental Anda.

Selektif meminjamkan uang

Anda mungkin dengan mudah bisa merasa kasihan dan tidak tega ketika orangtua meminjam uang, meski sebetulnya keberatan dengan alasan mereka berutang. Percayalah, ini bukan kebiasaan yang baik.

Sudah seharusnya orang tua mampu mengelola keuangannya sendiri. Kalau Anda punya keperluan lain yang lebih mendesak, misalnya kebutuhan anak Anda sendiri, ada baiknya mendahulukan itu ketimbang keperluan orang tua yang dirasa tidak darurat.

Mundur jadi ahli waris

Di tengah masyarakat kita, mengambil jarak dengan orang tua bisa disalah artikan sebagai sikap durhaka yang memunculkan stigma. Contohnya ketika seorang anak mundur sebagai ahli waris secara hukum karena tahu orang tuanya tidak bertanggung jawab mengelola uang, sehingga sampai terlilit utang.

Ini bukan cuma membuat si anak tak berhak atas warisan orang tua, tetapi juga lepas dari kewajiban melunasi utang-utang yang melilit orang tua jika mereka wafat. 

Bukan kekerasan fisik saja yang melukai anak-anak dan pertumbuhannya, tetapi juga sikap buruk orangtua. Lakukan apa yang bisa Anda lakukan sesuai daya dan kemampuan Anda, dan jangkau bantuan profesional bila diperlukan, ya!